Rabu, 18 Maret 2020

PROSES SOSIAL DAN SOSIALISASI DI MASYARAKAT

PROSES SOSIAL

Pengertian proses sosial

Ahli sosiologi Maclver mengatakan bahwa proses sosial adalah pola perilaku dimana relasi sosial antar anggota kelompok menghasilkan karakteristik yang khas. Karakteristik yang khas tersebut bisa berupa perubahan kondisi ke atas atau ke bawah, berkembang atau mundur, disintegrasi atau integrasi.
Ginsbers mendefinisikan proses sosial sebagai cara-cara interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok, termasuk dalam membangun kerja sama, konflik, diferensiasi, integrasi, pengembangan, dan pengeroposan hubungan sosial.
Menurut Gillin, dengan proses sosial, kita bermaksud mendeskripsikan cara-cara berinteraksi yang bisa kita amati ketika individu atau kelompok bertemu dan menciptakan sistem relasi atau apa yang terjadi ketika perubahan mendisrupsi pola kehidupan sebelumnya.
Dari ketiga definisi yang diusulkan di atas, kita bisa merangkum bahwa proses sosial adalah suatu bentuk perilaku sosial yang interaktif dan repetitif yang ditemukan dalam kehidupan sosial.
Kita akan kesulitan memahami apa itu proses sosial tanpa memahami interaksi sosial, begitu pula sebaliknya. Keduanya, sebagaimana yang disampaikan di awal, saling berhubungan.
Apa yang kita pahami sebagai masyarakat sebenarnya merupakan ekspresi proses sosial yang bermacam-macam. Di masayarakat ada orang bekerja sama, ada orang berkompetisi, ada orang berkonflik, ada proses asimilasi dan ada akomodasi. Tanpa memahami proses sosial, mustahil kita dapat menjelaskan apa yang terjadi di masyarakat.
Para ahli sosiologi memahami masyarakat sebagai diferensiasi ekspresi dari proses sosial tersebut. Sosiolog klasik Georg Simmel, misalnya, mengatakan bahwa masyarakat sangat mungkin untuk dipelajari ketika mereka eksis sebagai kumpulan individu yang menjalin relasi dengan pengaruh timbal balik. Pengaruh timbal balik inilah yang dipelajari dalam sosiologi. Simmel menyarankan untuk memahami bentuk-bentuk proses sosial dalam memahami masyarakat.

Bentuk-bentuk proses sosial dan contohnya.

Park dan Burgess menyebutkan ada empat bentuk paling fundamental dari proses sosial. Keempatnya sudah saya sebutkan di atas (minus kerja sama). Di sini sengaja saya sebutkan lagi agar pembaca lebih mudah memahami.
♦ Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial dimana individu, kelompok atau masyarakat dengan karakteristik kultural yang berbeda satu sama lain bertemu, berinteraksi, hidup berdampingan sehingga terjadi penyelarasan atau peleburan budaya. Hasilnya, terciptalah karakteristik budaya baru yang merupakan penyelarasan karakteristik budaya yang berbeda.
Proses asimilasi juga jamak terjadi di masyarakat sebab diferensiasi sosial adalah kenyataan yang ada dimana-mana. Setiap individu unik, setiap masyarakat juga unik. Perbedaan karakteristik budaya merupakan keniscayaan dalam kehidupan sosial.
Contoh asimilasi yang terjadi di masyarakat misalnya, mahasiswa yang berasal dari daerah melanjutkan studi di negara berbahasa Inggris. Proses asimilasi terjadi ketika ia berbicara dengan bahasa Inggris yang medok atau ngapak. Asimilasi tersebut terjadi pada individu. Pada masyarakat, misalnya, orang Jawa yang jadi fasih berbahasa Sunda setelah kuliah di Nangor.
♦ Amalgamasi
Merupakan suatu proses sosial yang melebur dua kelompok budaya menjadi satu, kemudian melahirkan sesuatu yang baru (Narwoko, 2013). Sebagai contohnya, dalam kelompok tani terjalin suatu proses sosial antara masyarakat tani dari berbagai daerah. Dengan adanya penyatuan masyarakat tersebut menjadi sebuah kelompok tani menimbulkan kebudayaan baru, yaitu masyarakat peduli terhadap inovasi-inovasi baru yang mendorong kemajuan, seperti penggunaan traktor, metode pemupukan, penggunaan obat kimia modern, dan sebagainya. melalui inovasi tersebut, para petani dapat meningkatkan hasil pertanian di desanya. 
♦ Konflik
Konflik merupakan proses sosial dimana untuk mendapatkan sumber daya atau keuntungan, satu pihak harus menjegal pihak lain dengan menggunakan ancaman dan kekerasan. Konflik adalah bagian dari dinamika sosial. Masyarakat yang sedang berkonflik tensinya naik, sistem sosial tidak stabil dan hawanya panas.
Sebagai contoh, pemain nomor punggung 10 disliding oleh bek lawan hingga bek itu dikartu merah wasit. Padahal slidingnya nggak kena atau dengan kata lain, no 10 melakukan diving atau pura-pura jatuh. Kiper yang menyaksikan adegan itu dari dekat langsung mendorong pemain nomor 10 karena tidak fair. Akhirnya aksi saling dorong terjadi, aksi saling pukul terjadi antar pemain. Sepak bola jadi taekwondo.
Ilustrasi di atas bisa terjadi dalam konteks lain. Misalnya di masyarakat, seorang ketua RT mendapat mandat dari kelurahan untuk membagi beras jatah khusus bagi warganya yang miskin. Tiba-tiba banyak warga jadi miskin agar dapat beras jatah. Beras yang jumlahnya sedikit habis oleh masyarakat yang mendadak miskin. Warga yang benar-benar miskin tidak uman. Akhirnya ketua RT diancam, kaca rumahnya pecah dilepar batu oleh orang tak dikenal.
♦ Kompetisi
Kompetisi merupakan proses sosial dimana individu atau kelompok berlomba-lomba untuk memperebutkan sumber daya yang jumlahnya terbatas. Perebutan sumber daya bisa dilakukan secara fair atau tidak. Di masyarakat, kita bisa melihat bagaimana kompetisi diatur sesehat mungkin. Namun selalu ada saja cara-cara tidak fair yang digunakan demi meraih tujuan.
Sebagai contoh, seseorang ikut seleksi masuk universitas ternama dengan menggunakan jasa calo. Cara ini jelas tidak fair. Tujuan menghalalkan segala cara adalah dalil sesat kompetisi. Banyak sekali keberadaan institusi sosial di sekitar kita yang didesain agar orang yang hidup di dalamnya berkompetisi. Bahkan mungkin institusi sosial tidak bisa hidup tanpa kompetisi.
Sebagai contoh, sekolah tempat kita belajar. Setiap pagi kita harus sudah datang sebelum jam masuk. Kalau tidak, kita akan mendapat teguran. Jika teguran itu kita dapat berulang-ulang, bisa-bisa nilai jeblok sehingga tidak naik kelas. Teman sekelas kita sudah mau lulus, kita masih berteman dengan adek kelas. Datang ke sekolah itu sendiri sudah berupa kompetisi.
♦ Akomodasi
Akomodasi bisa dipahami sebagai bentuk penyelesaian konflik yang terjadi di masayarakat. Bentuk penyelesaian konflik banyak macamnya. Pada prinsipnya, hubungan sosial yang berpotensi konflik coba diredam. Proses meredam potensi konflik agar normal kembali disebut akomodasi.
Sebagai contoh, dua orang siswa berdebat tentang definisi suatu istilah. Siswa yang pertama yakin pendapatnya benar. Siswa yang kedua mendapatkan ilmu dari google juga yakin pendapatnya benar. Debat memanas karena keduanya sama-sama ngeyel. Akhirnya Guru menjadi penengah. Akhirnya kedua pihak mengakui bahwa definisi istilah yang diperdebatkan hanya benar dalam konsteks tertentu. Bijak sekali.
Sikap memediasi atau menjadi penengah merupakan bentuk akomodasi. Mediasi merupakan salah satu contoh proses sosial yang cukup sering kita lihat. Akomodasi sering muncul karena merupakan upaya meredam konflik. Tanpa akomodasi, masyarakat mudah kacau.
SOSIALISASI DI MASYARAKAT
Sosialisasi adalah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Jenis Sosialisasi
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
  • Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
  • Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Bentuk-bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.

Tipe sosialisasi

Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar 'apakah seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah , misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
  • Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
  • Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses sosialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?
Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat suluit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

Pola sosialisasi

Sosialisasi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant otherSosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.

Proses sosialisasi

Menurut George Herbert Mead

George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut.
  • Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
  • Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
  • Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
  • Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tetapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama—bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya—secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

Menurut Charles H. Cooley

Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.'
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.'
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, di mana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap "nakal", maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai "anak nakal" sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

Agen sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah.
Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.
Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.
  • Keluarga (kinship)
Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada di luar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.
  • Teman pergaulan
Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.
Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
  • Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.
  • Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Contoh:
  • Penayangan acara SmackDown di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.
  • Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
  • Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.
  • Agen-agen lain
Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

Tujuan Sosialisasi

Dalam sosialisasi, memiliki tujuan antara lain:
1. Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang untuk melangsungkan kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dengan memberikan sosialisasi kepada individu, maka individu tersebut pada akhirnya dapat dengan mudah belajar untuk bersosialisasi pada masyarakat, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.
2. Mengembangkan kemampuan sesorang dalam berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan bercerita. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan terbiasa untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan masyarakat.
3. Membantu seseorang mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat atau dengan kata lain Mengembangkan fungsi-fungsi organik seseorang melalui introspeksi yang tepat. Dengan bersosialisasi, fungsi organik dalam tubuh/jiwa seseorang akan dapat terlatih dengan baik, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah untuk berkumpul pada masyarakat. Serta, dengan komunikasi yang baik, maka individu tersebut dapat dengan mudah untuk hidup berdampingan di masyarakat.
4. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan mudah untuk mendapatkan kepercayaan diri karena mereka memiliki komunikasi yang baik di masyarakat. Dengan adanya kepercayaan dan komunikasi tersebut maka individu dapat dengan mudah untuk bersosialisasi pada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar